Trading Dengan Pola Rectangle

Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)
Pola rectangle atau empat persegi panjang adalah salah satu dari pola pergerakan harga yang mengisyaratkan penerusan arah trend (trend continuation). Meskipun tidak selalu meneruskan arah trend atau kadang bisa juga terjadi pembalikan trend (trend reversal), tetapi kasus trend continuation lebih sering terjadi sehingga kemungkinannya lebih besar. Pola ini muncul ketika kondisi trend sedang kuat, dan pada suatu waktu pergerakan trend terhenti dan berkonsolidasi pada level resistance dan support tertentu yang membentuk pola rectangle.Dalam hal ini sebagian besar buyer yang menyebabkan harga bergerak naik atau seller yang menyebabkan harga bergerak turun menutup posisi buy atau sell-nya untuk mengambil keuntungan. Namun demikian setelah beberapa waktu buyer atau seller tersebut masuk kembali dan trend pergerakan harga kembali berlanjut. Formasi pola rectangle ini mirip dengan pola flag (bendera), bedanya adalah pada periode konsolidasinya yang lebih panjang.Ada 2 jenis pola rectangle yaitu bullish rectangle dan bearish rectangle. Pola rectangle yang terbentuk pada akhir uptrend dinamakan bullish rectangle, dan yang terbentuk pada akhir downtrend dinamakan bearish rectangle. Dalam prakteknya fase konsolidasi pada pola rectangle tidak harus berbentuk channel horisontal yang lurus, tetapi bisa agak miring atau membentuk sudut seperti gambar diatas.Trading dengan pola bullish rectangle

Jika harga bergerak uptrend dan kemudian berganti sideways (ranging) maka kemungkinan akan membentuk pola bullish rectangle, yaitu jika terjadi breakout dan harga menembus level resistance. Namun jika tidak terjadi breakout dan pergerakan harga berbalik arah maka akan membentuk pola double top. Berikut contoh pola bullish rectangle pada USD/JPY H4:

Pola bullish rectangle bisa diidentifikasi dengan terbentuknya level resistance (1), level support (2) dan terjadinya breakout pada level resistance (3). Ketika harga penutupan breakout candlestick berada diatas level resistance, entry buy bisa dilakukan pada candle berikutnya. Stop loss (SL) bisa ditentukan beberapa pip dibawah level support, dan target profit (TP) biasanya ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support. Dengan metode ini risk/reward ratio adalah sekitar 1:1.

Metode alternatif adalah setelah terjadi breakout dan level resistance berubah menjadi support, kita menunggu harga bergerak balik dan menguji (retest) level support tersebut. Jika harga tidak menembus level support maka kita bisa entry buy seperti pada contoh EUR/USD M15 berikut ini:

Untuk mendapatkan momentum entry yang lebih akurat bisa digunakan indikator teknikal semisal MACD atau indikator oscillator (RSI, Stochastic) juga dengan memperhatikan formasi price action dari candlestick-nya. Seperti pada contoh diatas terbentuk formasi bulish engulfing ketika harga gagal menembus level support, yang menunjukkan sentimen bullish.

Dengan metode ini bisa diperoleh risk reward ratio yang cukup besar karena kita bisa menempatkan level stop loss (SL) pada beberapa pip dibawah level support, sementara target profit (TP) ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support seperti pada metode sebelumnya. Tampak pada contoh diatas risk/reward ratio lebih besar dari 1:3.

Trading dengan pola bearish rectangle

Kebalikan dari pola bullish rectangle, jika harga bergerak downtrend dan kemudian berganti sideways (ranging) maka kemungkinan akan membentuk pola bearish rectangle, yaitu jika terjadi breakout dan harga menembus level support. Tetapi jika tidak terjadi breakout dan pergerakan harga berbalik arah maka akan membentuk pola double bottom. Berikut contoh pola bullish rectangle pada AUD/USD M30:

Ketika harga penutupan breakout candlestick berada dibawah level support, entry sell bisa dilakukan pada candle setelahnya. Stop loss (SL) bisa ditentukan beberapa pip diatas level resistance, dan target profit (TP) bisa ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support. Dengan metode ini risk/reward ratio lebih kecil dari 1:1.

Metode alternatif adalah setelah terjadi breakout dan level support berubah menjadi resistance, kita menunggu harga bergerak balik dan menguji level resistance tersebut. Jika harga tidak menembus level resistance maka kita bisa entry sell seperti pada contoh indeks Nasdaq100 H1 berikut ini:

Level stop loss (SL) ditentukan beberapa pip diatas level resistance, dan target profit (TP) ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support seperti pada metode sebelumnya, sehingga dengan metode ini bisa diperoleh risk reward ratio yang lebih besar. Seperti pada contoh diatas risk/reward ratio sekitar 1:2.

Sumber : en.tradimo.com : Bullish rectangle

en.tradimo.com : Bearish rectangle

www.fxkeys.com : How to Use the Rectangles and Flags Chart

Pattern in Forex Trading

artikel bersangkutan
Apakah anda menyukai tulisan ini? bagikan dengan teman anda. :)
Timbangan Industri Timbangan Industri Timbangan Industri Timbangan Industri Bergaransi Timbangan Industri Bergaransi Timbangan Industri Bergaransi